When an emotion has found its thought, and the thought has found words.

May 21, 2022

About Us

The words are getting meaningless

Another day is another guilt

I am like a fool waiting for your call 
but all I hear from you is an apology

You're too busy at work 
but I am like an idiot questioning about life at 2 am
and thinking of you most of the time

I might be okay 
but I am not fine at all

I miss you 
but there's nothing else I can do but to blame the distance between us

Because it feels like you're getting further 
and further away...
from me...

May 15, 2022

First Love

First love teaches someone to love, 
and to love again
After giving up, you get up
After falling, you start growing

You didn't just experience it
You got the meaning
Even though it hurt
You realized something

He was the first
But he wasn't the last
It was just the beginning
And it would never be the ending

March 26, 2022

Reaching for You


These days
I feel like I'll leave my blue and white bubbles
Leaving my childhood memories
Leaving my best friends

These days
I feel like I'll reach for you
While you are there
You are waiting for me

These days
I look at every detail of my bedroom
Every detail is getting far now
But when I look out of the windows
Your existence is getting close now
Every cm per every second
I do believe...
We'll meet somewhere

Maybe at the supermarket?
or maybe at the hall room?
I don't know
I just imagine that we'll be interested at each other
When we talk
Then we walk together

I'll talk about how much I want to watch Hooverphonic concert with Noemie Wolfs as woman on the mic
I know, that's impossible

Then I'll say that Benedict Cumberbatch is the only man on earth who fits Sherlock Holmes role
I hope you don't deny it

If I am with you
I'll only share my happiness
Instead of my pain
Because I've left them all with the past
I'll only think about now and my future with you in it

If I am yours
At every table, I'll save you seat
And every time we're in the restaurants
I'll reserve our favorite foods
And I'll let you pay the bills, hahaha

August 17, 2021

Pagi

Di pelataran pagi
Terbentang kabar kedamaian
Darimu...
Hangat sinar matahari
Semilir angin sejuk
Merdu kicau burung-burung
Langit yang indah
Sejenak...
Aku tak ingin beranjak
Atau berjalan cepat-cepat
Hanya,
Di sini...
Tertunduk meraup kasih
Pada detik-detik
Kau taburkan
Pagi...
Hari ini...

April 18, 2021

Tanpa Belenggu

Dalam bisingnya lautan realitas
Sayup kudengar rintihan rindu

Duh, andai aku bisa membunuh angka
Angka pada jam dinding itu
Angka yang terkurung dalam diriku

Aku akan kembali ke masa kecil
Untuk merasakan sekali lagi
Betapa indahnya...hidupku tanpa belenggu

Tanpa angka yang membuatku resah
Tanpa kata yang membuatku menahan amarah

Hanya bermain
Lalu tertidur dalam pelukan dongeng ayah ibu

January 09, 2021

Sebuah Ruang


Ada sebuah ruang
Namun tidak untukmu
Tidak untuk yang lain
Hanya untukku
Seorang

Dalam ruang itu
Pintu terkunci
Semua celah tertutup
Tak akan kubiarkan siapapun masuk
Mengintai
Ataupun mengendusku

Aku hanya akan memeluk diriku 
Erat
Dan lebih erat lagi
Setiap kali ku mendengar
Suara
Ketukanmu...

January 01, 2021

Siapa Aku?

Aku adalah ambisiku
Aku adalah harga diriku
Aku adalah kegilaanku
Aku adalah sunyiku
Aku adalah.......

Siapa aku?????

March 03, 2020

Kau adalah Aku


Tak seperti bualan yang menyembunyikan 

kekosongannya

Hadirmu begitu nyata

Menggilas ketakutan yang bersemayam di 

rongga jiwa

Menghempas tanya...


Geming yang kau hantarkan adalah 

hamparan nada

Peredam sumpah serapah terhadap hidup 

yang selalu ingin kuludah

Kau adalah kedamaian,

Erat memelukku...


Kau taut jemariku,

Menghapus pekat yang menyaputi

langkahku

Luruh segala kesakitanku

Kasihmu kokoh,

Deras mengaliri lembahku yang kasang

Tanpamu, aku bukanlah aku...

February 02, 2020

Riuh Dalam Anganku



Kau adalah seorang yang ingin kulihat 
kala ku buta
Kau adalah seorang yang ingin kudengar
kala ku tuli
Kau adalah seorang yang ingin kutemu 
kala ku tersesat
Kau adalah seorang yang ingin kucinta 
kala ku mencinta

Kau adalah kau    
Yang telah membentangkan cahaya di atas gelapku
Kau adalah kau
Yang telah merambatkan getar ke semua musimku
Kau adalah kau
Yang tersemat indah dalam barisan lirih doa panjangku

Kau adalah kau
Gerak tarianku
Kau adalah kau
Suara nyanyianku

Kau adalah kau
Jantung jantungku
Kau adalah kau
Seorang,
Riuh dalam anganku...

January 01, 2020

Jika Kau Tak Ada

Kau sangat berimplikasi pada duniaku
Kau adalah gelap terang ruang imajinasiku
Ini mungkin terdengar sangat klise di telingamu
Kata-kata yang kugunakan tuk definisikanmu terlalu biasa

Terlalu sering digunakan pujangga tuk mengindahkan apa yang dirasa
Namun sungguh, ini benar adanya
Aku tak berdusta, aku tak pandai dalam bersemiotika
Jadi ketahuilah seperti apa duniaku jika kau tak ada

Imajinasi hanya mengawang, tak meniupkan napas kehidupan
Puisi akan kehilangan substansi
Karena tak ada relasi antara kata dan emosi

December 01, 2019

Nyanyian Hujan


Kantuk menyuruhku menyerah pada lelah
Aku ingin menurutinya
Hanya saja...
Gemuruh di kejauhan membuat telingaku merindukan sesuatu
Aku ingin...mendengar nyanyian hujan...
Hujan yang mampu membuat seluruh memoriku lari ke arahmu,
Merengkuh senyummu dalam nyenyak...

January 01, 2019

Aku Rindu


Sengaja kutulis sebuah puisi malam ini

Agar kelak kau tahu

Betapa rindu keras kepala, 

mendistorsi sang waktu


Di sinilah jasadku teronggok, layu...

di antara hingar bingar kota, 

di antara gemerlap gedung-gedung tua

Aku hanya tergelak menantang

Meratap sepi yang enggan beranjak dari

muka bumi


Di mana kau?                                
              
Berapa jarak yang harus kutempuh lagi?

Aku lelah sendiri, 

mengeja batas yang tak pernah kuketahui

December 01, 2018

Weirdo


Tak seindah puisi Rumi
Kisah cintamu bahkan tak memiliki diksi
Setiap kali kau mencinta,
Kau selalu terjatuh sebelum benar-benar jatuh
Layaknya titik awan pada hamparan langit di atas sana
Cintamu setia berlabuh pada satu harapan kosong

Bodoh!
Memang siapa yang mau menaruh cinta padamu?
Kau hanya weirdo
Seorang yang lebih suka bayangan pohon
Daripada aku,
Manusia

October 02, 2018

Red (or Read?)

“Ssssst, jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia di antara kita.”

Bulu tengkukku seketika berdiri mendengar kalimat dingin itu. Cepat-cepat ku masukkan sebuah benda ke saku celanaku, lalu berlari menuju sebuah bangunan yang tampak sepi dari luar.

“Pak! Pak!” Aku menggedor-gedor gerbang sekolah.

“Astaga!” Seorang satpam memekik begitu melihatku. Mereka yang sedang melaksanakan upacara bendera, sontak menoleh ke arahku.

“Dia berdarah.” Bisik-bisik mulai terdengar, membuat perutku mendadak mual.

“Tolong aku.” Aku berkata dengan lirih. Darah sudah memenuhi telapak tangan kiriku.

Pak satpam lantas mengangkat tubuhku ke atas tandu, sementara beberapa guru dan petugas PMR bersiap membawaku ke UKS. Aku tertidur selama hampir tiga jam. Begitu aku bangun, sebelah tanganku telah dililit oleh kain perban.

Waktu istirahat rupanya sedang berlangsung, membuat perjalananku menuju kelas terasa canggung. Mereka memperhatikanku. Dengan mimik mengiba namun sarat keingintahuan, pandangan mereka tertuju pada tanganku yang diperban.

“Ali, apa yang terjadi?” Teman-teman sekelas membidikku dengan satu pertanyaan itu. Mereka mengerubungi mejaku layaknya bertemu seorang selebriti.

“Seseorang menodongku di jalan. Dia menginginkan ponsel dan uangku.” Dengan senang hati aku menjawab rasa keingintahuan mereka.

“Apa kau menyerahkannya?”

“Tentu saja tidak.”

“Dia lalu menusuk telapak tanganmu?”

“Ya.” Aku membuka perban, menunjukkan hasil jahitan dokter yang tampak indah, di telapak tangan kiriku. “Dengan pisau lipat.” tambahku, berhasil membuat mereka bergidik ngeri.

***

“Pagi tadi kau tidak meminum obatmu, kan?” Mama mencecar begitu mendapatiku pulang dengan tangan diperban.

Aku menggeleng, merogoh pisau lipat di saku celanaku, lalu menunjukkannya ke mama.

“Lihatlah, pa! Anakmu benar-benar sinting!”

Papa hanya tersenyum mendengar ucapan histeris mama.

Begitu pun diriku.

October 01, 2018

Elton


“Dia harus menemukan pintu itu.”

“Tidak, biar aku saja. Misi ini terlalu berbahaya untuknya.” Elton melirik seorang pemuda yang tengah menendang-nendang tengkorak kepala manusia, di tanah lapang nan gersang bersama teman-temannya.

“Ayolah. Kau tidak akan selamanya membiarkan dia hanya bermain-main di kamp persembunyian, sementara yang lain sudah menemukan lusinan Veltos, bukan?” sambung Zen, tak menyerah. 

“Tidak untuk saat ini, Zen. Scandic masih perlu banyak berlatih.” 

Menemukan pintu bukanlah perkara mudah. Di Wifera, pintu adalah Veltos – manusia terpilih untuk menyimpan kekuatan sihir yang diwariskan oleh Pinamar – raja agung yang takhtanya kini diturunkan kepada putra sulungnya – Aragon. 

Setiap Veltos menyimpan sihir yang berbeda, dan bersegel tentunya. Segel –  jenis sihir yang berfungsi untuk mengunci emosi Veltos agar tidak menyalahgunakan kekuatannya. Baru-baru ini, Aragon menetapkan sebuah peraturan:

"Setiap penduduk Wifera harus disegel atau mati."

Elton yang merupakan pemimpin Venao – kelompok penentang Aragon – jelas tidak akan membiarkan titah gila itu dilaksanakan. Apa jadinya jika manusia hidup tanpa emosi?

“Kau harus berhasil, bung. Atau mimpi buruk Wifera akan semakin panjang.” Zen menepuk kedua pundak Elton yang segera dibalas oleh Elton dengan anggukan mantap. 

Elton pun pergi menembus kegelapan malam Wifera. Aku harus menemukan pintu itu dan melenyapkannya. Selang beberapa hari, berkat sihir lacak yang telah dikuasainya, Elton berhasil menemukan Veltos sang pemegang segel. Veltos itu ternyata seorang perempuan dan bernama Rondinara. Tunggu – Rondinara?

Tidak. Ini tidak mungkin. 

Dia adalah Rondinara-ku! Seorang yang sangat aku cintai! Scandic akan membenciku jika aku membunuhnya.

Elton merasa sedih dan bimbang. Permasalahannya sekarang adalah, haruskah ia mengunci emosinya sendiri dan melenyapkan pintu itu? Jika ‘ya’, lalu apa bedanya Elton dengan Aragon?

July 07, 2018

Duka Terakhir

Hari ini akhirnya kau saksikan duka
Mengancam
Bertingkah bak bahaya sinar kosmik
Tetaplah di dalam rumah, katanya
Menit-menit yang begitu panjang
Tak mengerti
Mengapa?
Setiap kata hanya menggantung di udara

Menangis dan meraunglah, bisik mereka
Tidak!
Kau hanya ingin menyingkir, lalu berlari
Persetan soal blokade
Kau harus menerjangnya!

June 06, 2018

Tangis Sore Ini

Bau menguar menembus jalusi


Kalahkan aroma basah tanah


Petir akhiri bait hujan sore ini


Membuat musikmu seketika terhenti



Bergeming...


Pada angka lima kau lihat,


Jarum jam seolah enggan berotasi



Terisak....


Pada angka lima kau lihat,


Tubuh seseorang tak bernyawa lagi

May 05, 2018

Kosong

Lantai tertutup remah kue dan mainan
Piring-piring kotor bertumpuk
Jemuran masih tergantung di luar

Bocah-bocah berlarian
Mengejar layang-layang di bawah hujan
Tertawa, tak repot memikirkan masa depan

Sementara di dalam sebuah ruang
Sepasang mata nyalang
Menari bersama kekosongan

April 04, 2018

Racauan Malam

Apa jadinya jika semua orang sepertiku?
Hidup di atas kehidupan yang begitu dingin, tak terperi

Setiap hari adalah sama
Apa yang ku tatap hanyalah langit-langit kisah yang penuh noda, dengan dinding-dindingnya yang lembap dan pucat

Tak ada lagi cita-cita, mimpi, ataupun ambisi
Ku anggap mereka hanyalah kelakar atas ketidakberdayaanku dulu, yang siapapun tak boleh tahu

Ah, kini kau tahu betapa aku muak pada diri ini, yang terlalu naif membenci realitas ini
Silakan kau tertawa selagi kau mendengar keluh kesahku, bahwa..

Musik yang kualunkan, seni yang kuindahkan, sastra yang kuagungkan,
semata-mata oase di tengah-tengah semua kemonotonan ini

Ya, mereka mampu menciptakan euforia yang berujung pada pengharapan, keyakinan, bahkan inversi dari semua itu

Sungguh, racauan ini membuatku tampak seperti seorang pemabuk, bahkan seorang yang telah kehilangan kewarasannya

Aku ingin berhenti
Namun kata-kata ini terus meletup-letup di otakku, memaksaku mencarikan takdir yang indah untuknya...

March 03, 2018

Matilah Aku


Andai ku tahu tiap risalah tetes air hujan
Mungkin langkahku tak akan segontai ini
Aku akan berdiri tegak
Melawan getir yang selalu melekat

Kemelut di dada tak kunjung mereda
Aku bak pesakitan
Bisik cerca, umpat, dan makian terus menggema
Memenggal sedikit demi sedikit kenangan indah

Padam sudah api ambisiku
Dingin kian merasuk, memutus asa sampai ke kalbu
Maka matilah aku dalam pengadilan rasaku
Apa yang kulihat kini hanyalah perdu, dan perdu...