Wahai kawan, santailah
Tak perlu kau tunjukkan seringai di
wajah
Apalagi angkat telunjuk tuk menohok
dada
Bukankah kita sebangsa setanah?
Meski kau lahir di tanah Sumatera
Sedangkan aku di tanah Jawa
Tapi kita memiliki ideologi yang sama
Kau menganut pancasila
Aku
Meski aku hanya hafal satu di
antaranya
Sila ketiga ‘Persatuan Indonesia’
Aku yakin kau hafal segenapnya
QAku pun yakin kau tahu maknanya
Kau tahu SBY, bukan?
Penguasa negeri kaya garam dan padi
Mungkin kau heran mengapa beras dan
garam kita bermerek luar negeri
Sedangkan kita memiliki daratan dan
lautan tak bertepi
Oh, aku tahu jawabannya
Tapi lupakan sajalah
Akan habis buihku!
Kawan, kita jelas sama
Kita satu tumpah darah
Namun tak berarti kita saling
menumpahkan darah
Cukup orang-orang terdahulu kita,
Kala melawan Jepang ataupun Belanda
Redamkan api amarah
Tak perlu kau anggap aku kain merah
Karena putih berkibar dalam aliran
darah kita
Bukankah kau tahu warna bendera negeri
kita?
Bukankah kau juga tahu maknanya?
Kawan, tak perlu kau sesumbar tentang
bahasa
Karena aku tahu maknanya
Kau sedih ataupun marah
Semua tampak jelas dari intonasi dan
caramu berbicara
Tapi tenanglah
Bukankah kita memiliki Jusuf Kalla?
Bukankah para DPR terkorup pun milik
kita?
Kita memang berbeda suku
Kau suku batak
Sedangkan aku suku sunda
Kau mungkin suka tari tor-tor
Sedangkan aku suka tari jaipong
Kau mungkin gemar bernyanyi
Sedangkan aku gemar bertani
Kawan, ingatlah
Bung Karno dan Bung Hatta berjuang tak
semata tuk memerdekakan kita
Mereka juga ingin kita seperti simbol
garuda
Mata rantai ialah salah satunya
Aku yakin kau tahu segenapnya
Aku pun yakin kau tahu maknanya
Maka santai dan tenanglah
Redamkan api amarah
Kau dan aku adalah kawan
Meski kita terlahir dari puing-puing
perlawanan
Catat, perbedaan bukanlah papan tolakan
Untuk kita hidup berdampingan
No comments: