When an emotion has found its thought, and the thought has found words.

February 02, 2013

Kau Tahu Maknanya

Wahai kawan, santailah
Tak perlu kau tunjukkan seringai di wajah
Apalagi angkat telunjuk tuk menohok dada
Bukankah kita sebangsa setanah?
Meski kau lahir di tanah Sumatera
Sedangkan aku di tanah Jawa
Tapi kita memiliki ideologi yang sama
Kau menganut pancasila
Aku
Meski aku hanya hafal satu di antaranya
Sila ketiga ‘Persatuan Indonesia’
Aku yakin kau hafal segenapnya
QAku pun yakin kau tahu maknanya

Kau tahu SBY, bukan?
Penguasa negeri kaya garam dan padi
Mungkin kau heran mengapa beras dan garam kita bermerek luar negeri
Sedangkan kita memiliki daratan dan lautan tak bertepi
Oh, aku tahu jawabannya
Tapi lupakan sajalah
Akan habis buihku!

Kawan, kita jelas sama
Kita satu tumpah darah
Namun tak berarti kita saling menumpahkan darah
Cukup orang-orang terdahulu kita,
Kala melawan Jepang ataupun Belanda

Redamkan api amarah
Tak perlu kau anggap aku kain merah
Karena putih berkibar dalam aliran darah kita
Bukankah kau tahu warna bendera negeri kita?
Bukankah kau juga tahu maknanya?

Kawan, tak perlu kau sesumbar tentang bahasa
Karena aku tahu maknanya
Kau sedih ataupun marah
Semua tampak jelas dari intonasi dan caramu berbicara
Tapi tenanglah
Bukankah kita memiliki Jusuf Kalla?
Bukankah para DPR terkorup pun milik kita?

Kita memang berbeda suku
Kau suku batak
Sedangkan aku suku sunda
Kau mungkin suka tari tor-tor
Sedangkan aku suka tari jaipong
Kau mungkin gemar bernyanyi
Sedangkan aku gemar bertani

Kawan, ingatlah
Bung Karno dan Bung Hatta berjuang tak semata tuk memerdekakan kita
Mereka juga ingin kita seperti simbol garuda
Mata rantai ialah salah satunya
Aku yakin kau tahu segenapnya
Aku pun yakin kau tahu maknanya

Maka santai dan tenanglah
Redamkan api amarah
Kau dan aku adalah kawan
Meski kita terlahir dari puing-puing perlawanan
Catat, perbedaan bukanlah papan tolakan
Untuk kita hidup berdampingan

No comments: