When an emotion has found its thought, and the thought has found words.

March 03, 2015

Hujan Sepeninggal Senja


Bibirmu terbelenggu
Kala sepasang mata indahmu terpaku
Menatap jingga merangkak melabuhi biru
Menyambut rembulan mengusir kelabu

Aku terpaku
Bak mendengar dongeng di masa lalu
Kala hitam meruang menciptakan serdadu,
Cahaya terpecah menjadi butiran-butiran pilu
Aku tiada henti memandang wajah sendu itu
Bak lukisan kaca nan indah namun merapuh
Kau tercenung meratapi kepergianku

Aku tahu
Titik-titik hujan ini tengah mewakili tangismu
Dinginnya nan merasuk, meremas-remas ulu hatiku

Namun sayangku
Aku tak peduli pada kilatan putih nan menyayat bak sembilu
Aku pun tak peduli pada suara guntur nan beradu mengutukiku
Aku sungguh tak peduli pada desau angin nan kencang menertawaiku
Kaki-kaki ini kan terus kucambuk tuk tetap melaju

Kumohon sayangku
Jangan hiraukan debur ombak nan meraung menakutiku
Aku ‘kan meronta demi mimpi nan merajai saraf di otakku
Aku tahu
Titik-titik hujan ini tengah mewakili tangismu

Namun sayangku
Telah kutitipkan cinta beserta rinduku
Pada bait hujan sepeninggal senja di pelabuhan itu
Kuharap daratan takkan pernah mengelabuiku
Hingga ku kembali,
Dan menangkap senyum indahmu

No comments: